
Penulis: Alkausar | FaktarealTV.com
Semende, Muara Enim – Warga Desa Pajar Bulan, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan, dibuat resah akibat serangan kera liar yang merusak lahan persawahan mereka. Diperkirakan sekitar 10 hektar sawah warga mengalami kerusakan akibat serbuan kera yang turun dari kawasan hutan.
Serangan ini telah berlangsung selama satu hingga dua minggu terakhir. Kera-kera yang biasanya hidup di hutan kini mulai masuk ke area pertanian dan merusak tanaman padi, sebagian di antaranya dalam kondisi siap panen.
Kepala Desa Pajar Bulan, Herli, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebutkan bahwa warga kini terpaksa berjaga di sawah hampir setiap hari demi melindungi tanaman mereka dari serangan hewan liar.
“Sudah hampir dua minggu ini kera-kera datang dan merusak sawah. Warga kini harus berjaga hampir setiap hari untuk menjaga lahannya,” ujar Herli saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.
Sebagai bentuk respons atas situasi ini, pemerintah desa mengeluarkan surat pemberitahuan pada 1 April 2025. Dalam surat tersebut, warga yang berhasil memburu kera liar yang dianggap merusak sawah akan diberikan imbalan sebesar Rp50.000 per ekor.
Sahaludin, seorang aktivis masyarakat Semende, menyoroti kemungkinan bahwa gangguan satwa liar ini berkaitan dengan aktivitas perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut, seperti Pertamina Geothermal Energy (PGE) dan Supreme Energy. Ia menduga, eksplorasi dan pembukaan lahan oleh perusahaan-perusahaan tersebut bisa merusak ekosistem hutan yang menjadi habitat alami satwa liar.
“Kita tidak bisa menutup mata bahwa aktivitas industri di sekitar hutan bisa menyebabkan terganggunya ekosistem. Ketika habitat mereka rusak, satwa seperti kera mencari makan ke wilayah pertanian,” ujar Sahaludin.
Ia juga menegaskan bahwa serangan kera liar seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah Semende.
“Selama ini belum pernah ada kejadian kera menyerang sawah warga seperti sekarang. Ini jelas pertanda ada yang tidak beres dengan keseimbangan lingkungan kita,” tambahnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Pertamina Geothermal Energy (PGE) maupun Supreme Energy belum memberikan tanggapan atas dugaan tersebut. Tim FaktarealTV.com akan menelusuri lebih lanjut dengan mengupayakan konfirmasi kepada pihak perusahaan terkait.






