
Penulis Al-kausar
Artikel
Setiap akhir tahun, drama memuakkan ini terulang. Hujan deras mengguyur, jalanan berubah jadi kubangan lumpur, genangan air membanjiri mana-mana. Namun di tengah kehancuran ini, tiba-tiba saja proyek-proyek pembangunan bangkit dari kuburnya!
Proyek drainase yang seharusnya mencegah banjir, pemasangan bronjong di tepi sungai, pembangunan tangki septik di permukiman, pengerjaan gedung sekolah dan rumah sakit, hingga pembangunan gedung olahraga, semuanya mendadak dikebut menjelang tutup tahun. Aspal ditumpahkan di atas lumpur, beton dicor di bawah hujan, alat berat meraung siang malam, berpacu melawan waktu.
Ini bukan keajaiban alam. Ini adalah SADISME ANGGARAN!
Seolah ada kesepakatan iblis di seluruh negeri: proyek harus hidup di tengah badai, bukan demi rakyat, tapi demi menyelamatkan sisa anggaran.
Jangan kira ini tentang semangat pembangunan. Ini tentang CUAN!
Purbaya Yudhi Sadewa, pejabat pemerintah pusat, dengan nada hambar mengakui fakta memilukan:
“Per September 2025, ada sekitar Rp234 triliun dana pemerintah daerah yang mengendap di bank.”
Uang rakyat, yang seharusnya mengalir jadi urat nadi pembangunan, justru dibiarkan tidur nyenyak. Dan ketika uang itu tidur, bunganya tumbuh subur mekar di kegelapan, jauh dari mata publik yang tertindas!
Secara aturan, bunga itu memang seharusnya masuk ke kas daerah. Tapi antara “aturan” dan “kenyataan”, terbentang jurang selebar lubang di jalan kabupaten yang tak kunjung diperbaiki. Ada yang berpura-pura mencatatnya, tapi lebih banyak yang membiarkannya tumbuh liar di taman rahasia tanpa penjaga.
Jangan heran jika laporan keuangan daerah berkilauan seolah suci, sementara di lapangan rakyat menyaksikan proyek-proyek dikebut tanpa arah — dari bronjong, tangki septik, sekolah, rumah sakit hingga gedung olahraga, semua berlomba diselesaikan menjelang akhir tahun, seakan waktu lebih penting dari kualitas, dan laporan lebih penting dari manfaat.
Misteri akhir tahun di Muara Enim kini terbongkar: proyek bukan dikebut karena semangat melayani, tapi karena SAATNYA BUNGA BANK DIPANEN!
Setiap Desember, Muara Enim bukan lagi taman mawar atau melati, tapi Taman Bunga Bank harum bagi pejabat, busuk bagi rakyat.
Cukup sudah!
Uang rakyat adalah darah kehidupan bangsa ini, bukan pupuk bagi bunga bank yang hanya mengharumkan ruang-ruang kekuasaan!
Pembangunan sejati tidak lahir dari penyerapan anggaran karbitan di ujung tahun, tapi dari niat tulus menggerakkan kesejahteraan sejak awal.
Muara Enim dan daerah-daerah lain di Indonesia harus berani memutus rantai proyek kilat akhir tahun.
Transparansi anggaran harus dimulai sejak Januari, bukan Desember. Setiap rupiah yang disimpan di bank harus dipertanggungjawabkan secara terbuka. Perencanaan pembangunan mesti dirancang matang, bukan sekadar untuk menambal laporan serapan.
Jika setiap pejabat mau menukar sedikit bunga dengan kepedulian, sedikit laporan dengan tindakan nyata, maka banjir bukan lagi takdir, dan rakyat tak lagi jadi korban permainan anggaran.
Karena sejatinya, pembangunan bukan lomba menghabiskan uang, tetapi perjuangan menanam harapan.







