
Penulis : Alkausar
Muara Enim FaktarealTV. Com— Warga Dusun Sukamaju, yang bermukim di sekitar aliran Sungai Limau, TPU Air Lintang, Desa Karang Raja, Kecamatan Muara Enim, Sumatera Selatan, membangun jalan secara swadaya sebagai bentuk sindiran terhadap pemerintah dan perusahaan yang dinilai abai terhadap kebutuhan masyarakat. Aksi gotong royong itu berlangsung pada Minggu (13/4/2025).
Pembangunan jalan sepanjang 200 meter dengan lebar 4 meter ini digerakkan oleh rasa kecewa warga karena selama ini tidak mendapatkan perhatian dalam hal infrastruktur dasar. Minimnya akses dan kondisi lingkungan yang memprihatinkan mendorong warga untuk mengambil langkah nyata tanpa bantuan pihak luar.
Effendi (42), salah satu warga, menegaskan bahwa pembangunan ini murni hasil dari swadaya masyarakat, bukan proyek pemerintah atau bantuan dari perusahaan manapun. “Dengan material dan tenaga yang kami kumpulkan sendiri, kami buktikan bahwa meski tak dibantu, kami tetap peduli pada kampung kami,” ujarnya.
Di balik semangat gotong royong tersebut, tersimpan kekecewaan yang mendalam. “Mungkin inilah cara kami menyampaikan pendapat di muka umum,” tambah Effendi.
Ia berharap, aksi ini menjadi tamparan moral bagi pemerintah dan perusahaan, terutama PT Bukit Asam, agar lebih peka terhadap kondisi warga yang tinggal di sekitar wilayah operasional mereka. “Di balik megahnya hasil bumi Muara Enim, masih ada warga yang harus berjuang demi sekadar memiliki jalan layak,” tegasnya.
Effendi juga menyentil sikap Pemkab Muara Enim yang dinilainya tidak adil. “Jalan kota bisa dengan mudah dipinjamkan ke PT Duta Bara Utama (DBU), tapi warga yang tinggal tak jauh dari rumah dinas Bupati saja belum merasakan pembangunan yang layak,” katanya.
“Kalau perusahaan dan pemerintah tidak peduli, itu urusan mereka. Tapi ingat, jika mereka abai, berarti mereka telah mendidik rakyatnya untuk jadi apatis. Dan itu dosa besar,” ujarnya tajam.
Senada dengan itu, Munsiri (30), warga lainnya, menegaskan bahwa masyarakat tidak ingin bergantung. “Kami bukan warga yang manja. Kami bergerak dulu. Kalau dibantu, syukur. Kalau tidak, kami tetap jalan,” ucapnya.
Ia menutup dengan pesan penuh perlawanan: “Kami menolak untuk dibodohi dan meratapi nasib. Jangan ajari kami takut menjalani hidup. Kami akan melawan dengan cara kami sendiri.”






