
Muara Enim FaktarealTV. Com— Derita masyarakat di Wilayah Semende kembali mengemuka. Sudah dua bulan terakhir, pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU Pertamina 26.313.20 Desa Pulau Panggung tersendat. Kelangkaan solar membuat mobil angkutan berhenti beroperasi, aktivitas ekonomi melemah, dan warga harus menanggung akibatnya.
Padahal, selama enam bulan sebelumnya, masyarakat sangat terbantu dengan lancarnya penyaluran BBM di wilayah yang selama ini sulit dijangkau. Namun kini, situasi berbalik: solar langka, harga sembako naik perlahan, dan mobil-mobil angkut hasil bumi banyak terparkir tak bergerak.
Keluhan Warga: “Kami Butuh Solar untuk Hidup, Bukan untuk Berfoya-Foya”
Di tengah kondisi geografis Semende yang berbukit dan jauh dari pusat kota, masyarakat menggantungkan hidup dari hasil pertanian. Tanpa solar, angkutan kopi, sayur, hingga kebutuhan pokok terhenti.
“Kalau mobil tidak jalan, hasil panen kami menumpuk. Kami rugi, pasar rugi, semua jadi terhenti,” keluh seorang petani.
Kami mengkonfirmasi Kepada Redaksi, Direktur PT Arpat Maju Bersama, pengelola SPBU Pertamina 26.313.20 menyampaikan bahwa pihaknya telah melengkapi seluruh dokumen dan menandatangani kontrak baru.
“Kami sudah siap. Tinggal menunggu penyaluran dari Pertamina. Semua syarat administrasi sudah lengkap,” tegasnya.
Namun, hingga hari ini, BBM belum kunjung disalurkan. Dampaknya langsung dirasakan masyarakat lapisan paling bawah.
Yang membuat keadaan kian miris, wilayah ini justru termasuk sasaran program BBM Satu Harga, program negara yang bertujuan mempermudah distribusi BBM ke daerah terpencil dan mengurangi beban administrasi.
Semangat BBM Satu Harga adalah keadilan energi: rakyat di pelosok harus merasakan akses BBM yang sama dengan masyarakat kota.
Bahkan, dalam kondisi tertentu, penyaluran bisa dilakukan dengan peralatan sederhana, termasuk canting, agar masyarakat tetap mendapatkan BBM murah hingga pelosok desa.
Namun realitas di lapangan jauh dari cita-cita itu.
Rakyat Menunggu, Ekonomi Melambat, Pertamina Harus Hadir
Saat ini, warga Semende hanya bisa berharap Pertamina segera turun tangan.
Sebab di tanah yang jauh dari hiruk-pikuk kota ini, solar bukan hanya bahan bakar, tetapi denyut kehidupan.
Setiap hari keterlambatan distribusi BBM berarti kerugian baru, bukan hanya bagi petani dan sopir, tetapi bagi seluruh ekonomi desa.
Jika program BBM Satu Harga benar untuk rakyat, maka rakyat di Semende menagih bukti bukan janji.
Penulis : Alka







